Joko Anwar Tolak Hollywood, Fokus Ciptakan Kisah 'Siksa Kubur'
Horor berkualitas kembali menghantui layar lebar Indonesia dengan teaser trailer 'Siksa Kubur', sebuah film yang tidak hanya menjanjikan ketegangan, tetapi juga mempertanyakan keabadian dosa. Dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta, Joko Anwar, sutradara ternama, memaparkan kisah di balik produksi film yang dipenuhi nuansa mendalam tentang agama dan pencarian jati diri.
Pada 13 Maret 2024, Konferensi Pers film "Siksa Kubur" digelar di Episentrum XXX, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan pukul 16.00 WIB. Dalam acara jumpa pers tersebut, para pemain, tim produksi, serta 374 media yang ikut menyaksikan teaser trailer "Siksa Kubur". Trailer tersebut memperlihatkan sedikit gambaran dari para pemainnya, seperti Reza Rahardian, Muzakki Ramdhan, Faradina Mufti, Widuri Puteri, Arshwendi Bening, hingga Selamet Raharjo.
Diiringi oleh narasi dari Widuri Putri teaser trailer "Siksa Kubur" masih menyimpan rapat jalan ceritanya. Namun narasi yang dibangun mempertanyakan mengapa orang-orang tetap berbuat dosa meskipun tahu di akhirat akan ada pertanggungjawabannya.
Film yang akan tayang tepat saat lebaran, 10 April 2024, ini merupakan adaptasi dari film pendek berjudul sama karya Joko Anwar. Film pendek "Siksa Kubur" bercerita tentang seorang anak pembunuh berantai yang tak sengaja masuk ke dalam peti mati ayahnya.
Siksa Kubur menyajikan kisah horor khas Joko Anwar yang dibangun lewat set up dan ambience mengerikan sebelum membawa penonton ke puncak adegannya.
Sutradara ternama Indonesia tersebut mengungkapkan pengalaman menarik dalam pembuatan film terbarunya "Siksa Kubur". ia mengungkapkan penolakannya terhadap tawaran untuk menyutradarai film Hollywood, dengan alasan ingin fokus sepenuhnya pada karya terbarunya. Menurutnya, saatnya bagi kita untuk berhenti menganggap film-film Hollywood sebagai standar yang lebih unggul dibandingkan karya-karya lokal kita sendiri.
Joko Anwar menyebutkan bahwa film "Siksa Kubur" tak hanya menarik untuk disajikan dalam narasi, tetapi juga mengandung pesan penting yang harus disampaikan. Alasan inilah yang mendorongnya untuk memilih proyek "Siksa Kubur" daripada menerima tawaran dari industri perfilman Hollywood.
Disela-sela pembicaraan, sang sutradara juga menegaskan bahwa "Siksa Kubur" bukan sekadar film horor belaka, namun juga membawa nuansa mendalam tentang agama, keluarga, dan pencarian jati diri. Dengan pengalaman dan keberanian eksploratifnya, Joko Anwar kembali mempersembahkan karya yang menjanjikan untuk penikmat film Indonesia.
Dalam film yang menandai kembalinya kerja sama dengan Christine Hakim dan Slamet Rahardjo setelah 17 tahun sejak "Pintu Terlarang" (2009), terjadi transformasi luar biasa bagi para pemainnya. Faradina Mufti dan Reza Rahadian, dua aktor utama dalam film ini, mengalami perubahan yang mencengangkan.
"Sampai saat ini, saya menganggap bahwa Joko adalah filmaker yang sesungguhnya," seru Arswendy Bening Swara, memuji Joko Anwar sebelum berbicara mengenai pengalamannya dalam film Siksa Kubur.
Sebagai seorang aktor senior dengan pengalaman dalam berbagai film, Arswendy Bening mengungkapkan bahwa dalam film "Siksa Kubur" ini, ia menemukan pendekatan berakting yang baru. Hal ini mendorongnya untuk terus memperbaharui teknik beraktingnya, menghadapi tantangan yang berbeda dalam memerankan peran yang diberikan.
Beberapa aktor lain dalam film "Siksa Kubur" juga berbagi pengalaman menarik, menyebut peran mereka sebagai sebuah tantangan yang baru. Mereka memuji kesiapan Joko Anwar sebagai sutradara yang telah menyusun naskah karakter dengan sangat detail, yang pada satu sisi memudahkan proses akting namun juga menantang mereka untuk lebih mendalami karakter yang mereka perankan.
Selama proses syuting, para pemain yang masih di bawah umur diberikan skrip versi minor yang berbeda dengan pemain lainnya serta ditetapkannya pembatasan jam membaca skrip. Langkah ini diambil untuk melindungi para pemain muda agar tidak terlalu terpapar pada seluruh proses produksi film.
Sebagai produser film "Siksa Kubur", Tia Hasibuan menegaskan komitmennya terhadap produksi ini, mengindikasikan kesesuaian proyek dengan arah film yang dikejar oleh perusahaan produksi Come and See Pictures. Salah satu inti dari proyek ini adalah pendekatan cerita yang unik dan universal dari tema "Siksa Kubur", yang dibawakan melalui sudut pandang yang sangat spesifik.
Pada saat berbincang-bincang, Jaisal Tanjung, sinematografer "Siksa Kubur", menjelaskan bahwa sinematografi dalam film tersebut disusun dengan sebaik mungkin untuk memungkinkan penonton merasakan sepenuhnya perjalanan karakter dalam cerita. Sementara itu, tim musik dipastikan menghadirkan frekuensi yang tepat, bukan hanya sebagai pendukung adegan, melainkan juga sebagai sarana komunikasi dua arah yang intens antara film dan penontonnya.
Menjawab pertanyaan dari salah satu media, Joko Anwar memastikan bahwa filmnya, "Siksa Kubur", tidak akan menampilkan adegan gore yang berlebihan, sehingga masih bisa untuk ditonton oleh penonton di bawah usia 17 tahun dengan pendampingan orang dewasa. Setelah berdiskusi, mereka juga memutuskan untuk memberikan pengalaman yang sama menariknya bagi penonton di semua bioskop, di mana pun film ini ditayangkan.
"Khusus untuk Siksa Kubur setelah berdiskusi kami memutuskan untuk membuat film ini bisa ditonton di mana pun, oleh siapa pun, di bioskop seperti apa pun tetap bisa dinikmati," kata Joko dalam konferensi pers di Jakarta
Selatan, Rabu (13/3/2024)
Dikabarkan pada acara jumpa pers tersebut, bahwa film "Siksa Kubur" juga akan ditayangkan di beberapa negara tak lama setelah dirilis di Indonesia.
Dengan semangat dan dedikasi yang tinggi, tim produksi dan para pemain film "Siksa Kubur" telah berhasil menghadirkan sebuah karya yang menjanjikan untuk penikmat film horor Indonesia. Dari teaser trailer yang memikat, kisah yang dirahasiakan, hingga cerita tentang perjuangan para pemainnya, acara tersebut berhasil menarik perhatian dan memberikan penghargaan terhadap dedikasi Joko Anwar dan seluruh tim produksi. Diharapkan bahwa karya ini tidak hanya akan sukses di Indonesia, tetapi juga memperoleh penerimaan yang sama hangatnya di berbagai negara di luar sana, membawa nuansa khas Joko Anwar yang membuatnya menjadi salah satu sutradara terbaik dalam perfilman Indonesia saat ini. - (LN)

Comments
Post a Comment